Indonesia membidik peluang besar di pasar obat herbal global yang diprediksi mencapai nilai USD 24,5 miliar pada tahun 2030. Menanggapi potensi ini, Prof. Dr. Sugiharto, Guru Besar Bidang Ilmu Toxicology, Aktivitas Enzim Antioksidan Endogen Hewan Coba Universitas Airlangga (UNAIR), menekankan pentingnya standarisasi bahan alam melalui pendekatan saintifik.

Sidang pengukuhan guru besar pada kamis (12/02/2026) menambah daftar Profesor Fakultas Sains dan Teknologi (FST). Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Dr. Sugiharto memaparkan bukti bahwa tanaman seperti temulawak dan sambung nyawa memiliki efektivitas tinggi sebagai antioksidan dan antibakteri. Namun, tantangan besar menanti, mulai dari ancaman deforestasi yang mengancam habitat tanaman obat hingga tingginya biaya riset laboratorium. Solusinya? Sinergi “Hilir ke Hulu”. Beliau menyerukan kolaborasi ketat antara petani sebagai penyedia bahan baku, akademisi sebagai peneliti, industri farmasi sebagai produsen, dan pemerintah sebagai regulator untuk mewujudkan ekosistem kemandirian obat yang tangguh.