Sesuai dengan Surat dari Rektor Unair nomor 3838/UN3/PPd/2013 tertanggal 27 Februari 2013,
maka kami beritahukan bahwa penyelenggaraan wisuda Program Diploma 3 (D3), Program Strata 1 (S1), Program Magister (S2) dan Program Doktor (S3), yang semula dijadwalkan tanggal 30 Maret 2013 dimajukan pada tanggal
26 dan 27 Maret 2013
dikarenakan tanggal 30 Maret 2013 merupakan Libur Hari Raya Paskah.
Demikian informasi kami, terima kasih
Lokasi Coordinates: 7°15’57″S 112°47’1″E
Pengisian Perbaikan Rencana Studi (KPRS) online semester Genap 2012/2013 yang dilaksanaka pada tanggal 11 s.d 14 Maret 2013 di http://CyberCampus.unair.ac.id semoga berjalan lancar.
Seminar Nasional Biodiversitas IV 2012

LIPI: Masa Depan Indonesia Bergantung Pada Biodiversitas
[by. PIH Unair]
Prof. Dr. Ir. Bambang Prasetya, Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menegaskan bahwa nasib Indonesia tergantung pada pengelolaan keanekaragaman makhluk hidup atau biodiversitas. Ditegaskannya, saat ini pengelolaan biodiversitas Indonesia masih lemah dan perlu perbaikan lebih lanjut. “Saya khawatir bila kondisi ini terus berlanjut akan mempengaruhi nasib bangsa kita kedepan,” ungkapnya.
Usai Seminar Nasional Biodiversitas IV yang diselenggarakan di Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga, Sabtu (15/9), Ia mengungkapkan, biodiversitas di Indonesia rawan dicuri oleh pihak asing. “Saat kita bekerjasama dengan negara donor penyumbang dana penelitian, meskipun MOU-nya sudah rapi, tapi tetap saja kita merasa kehilangan,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia mengungkapkan banyak kejadian peneliti asing yang melakukan kecurangan. “Banyak kejadian, peneliti asing yang ijinnya tercantum sebagai turis, tapi masuk ke hutan kita mengambil sampel,” tuturnya. Menurutnya, meski sistem karantina sampel sudah bagus di Indonesia, tetap saja kecolongan. “Kita bisa saja tidak sadar sampel tanah di hutan kita dibawa oleh mereka untuk diteliti di negaranya. Oleh sebabnya, ada negara yang sampai ekstrim melarang peneliti asing masuk,” imbuhnya.
Indonesia bergantung kepada negara donor dalam hal penelitian keanekaragaman bisa jadi disebabkan dana pemerintah yang sangat minim. “Kalau dihitung budgetnya LIPI masih minim. Bahkan untuk kegiatan inventarisasi dan membuat sampel di lapangan saja tidak cukup,” tegasnya. Akibatnya, database kekayaan itu pun diakui Prof. Bambang belum terkelola dengan baik. “Database LIPI saat ini masih belum terkelola baik akibat integrasi yang lemah, sehingga kami mengupayakan untuk bekerja sama dengan peneliti dari berbagai pihak tidak terkecuali dari perguruan tinggi,” ucapnya.
Menurutnya, pengelolaan biodiversitas Indonesia seharusnya dimulai dari pemetaan. “Dari peta nanti dapat dievaluasi potensinya apa. Sehingga kita menjadi tahu daerah mana yang berpotensi dan yang harus dilindung,” tuturnya. Ia menambahkan, dengan peta kekayaan itu nanti ada langkah untuk membahasakannya dengan hitungan ekonomi, sehingga jelas berapa nilai biodiversitas Indonesia.
Berdasarkan data, sebanyak 5 juta lebih biodiversitas di dunia, 15,3% nya dimiliki alam Indonesia. Namun, kurang dari 5% keanekaragaman hayati Indonesia yang termanfaatkan. “Kalau memang belum bisa memanfaatkan seluruhnya, langkahnya adalah dikonservasi terlebih dahulu. Hal yang dikhawatirkan saat ini, belum dimanfaatkan sudah hilang di habitatnya,” tegasnya.
Peran Perguruan Tinggi
Menyiasati dana yang sangat minim dari pemerintah, LIPI pun menilai perlunya peran perguruan tinggi (PT). “PT punya peranan strategis karena mereka yang mencetak SDM yang paham sumber daya hayati,” cetusnya. PT juga dinilai dekat dengan ekosisitem yang ada di sekitarnya sehingga bisa membantu LIPI dalam hal inventarisasi keanekaragaman hayati. “Harapannya, banyak peneliti dari PT yang terjun. Jangan orang asing terus yang masuk Papua,” tandas Pof. Bambang.
Sementara itu Dr. Sucipto Hariyanto, DEA, Ketua Panitia Seminar Nasional Biodiversitas IV juga melontarkan pernyataan yang senada. “Sumber daya genetik sangat besar harganya. Oleh karena itu harus dipetakaan dengan bantuan SDM perguruan tinggi,” ucapnya. “Dulu ada peneliti asing yang membawa pollen (serbuk sari) pohon kelapa yang bagus untuk diteliti di negara mereka berasal. Jangan sampai kita kecolongan lagi,” imbuhnya. Peneliti dari perguruan tinggi diharapkan membantu pengungkapan keanekaragaman hayati Indonesia sehingga di kemudian hari bisa dimanfaatkan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kuz9
















