
Berbeda dengan anggapan banyak orang yang hanya mengenalnya sebagai tanaman hias karena bunganya yang cantik dan mencolok, Thunbergia affinis (bunga madia) menyimpan potensi yang jauh melampaui nilai estetikanya. Di balik kelopak bunganya yang anggun, tumbuhan ini memiliki berbagai senyawa metabolit sekunder yang berperan penting bagi kelangsungan hidup tanaman sekaligus berpotensi dimanfaatkan dalam bidang kesehatan. Beragam kandungan seperti flavonoid, fenolik, dan senyawa antioksidan diketahui berkontribusi dalam melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas, sementara pigmen alaminya juga berperan menarik penyerbuk untuk mendukung proses reproduksi. Dengan demikian, Thunbergia affinis bukan sekadar penghias taman, tetapi juga merupakan spesies yang menarik untuk dikaji lebih dalam karena menyimpan potensi biologis dan farmakologis yang menjanjikan.
Thunbergia affinis merupakan tumbuhan perdu dari famili Acanthaceae yang memiliki habitus tegak dengan tinggi mencapai 150 cm. Tanaman ini memiliki struktur percabangan yang rapat. Bagian daun merupakan daun tunggal yang berhadapan (oposit). Helaian daun memiliki ukuran panjang 9 cm dan lebar 4,1 cm, menunjukkan bentuk yang cenderung jorong atau oval-elips. Tepian daun bisa bervariasi dari rata hingga sedikit bergerigi dangkal, dengan ujung daun yang meruncing. Ukuran daun yang relatif kompak ini proporsional dengan tinggi habitusnya yang mencapai 1,5 meter. Spesies ini dikenal dengan bunganya yang berbentuk terompet (infundibuliform) berwarna ungu tua dengan bagian tenggorokan berwarna kuning. Batangnya cenderung berkayu di bagian pangkal dan beralur pada bagian yang lebih muda, memberikan kekuatan bagi tanaman untuk tumbuh setinggi 150 cm tanpa memerlukan penyangga tambahan yang besar.
Thunbergia affinis S. Moore memiliki nilai utama sebagai tanaman hias lanskap karena bunga ungu berbentuk terompet dan habitus semaknya yang menarik, sehingga sering dimanfaatkan sebagai pagar hidup maupun elemen dekoratif taman. Selain memperindah lingkungan, tanaman ini berperan sebagai sumber nektar bagi lebah dan kupu-kupu, sehingga membantu mendukung proses penyerbukan dan menjaga keanekaragaman hayati. Kemampuannya berbunga hampir sepanjang tahun di daerah tropis menjadikannya tanaman yang bernilai ekologis sekaligus estetis.
Secara farmakologis, T. affinis mengandung metabolit sekunder seperti iridoid glikosida, flavonoid, dan senyawa fenolik yang berpotensi sebagai antioksidan dan antiinflamasi (Sultana et al., 2015). Ekstrak daunnya juga menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap bakteri patogen (Jeeva et al., 2011), sedangkan dalam pengobatan tradisional, akar dan daunnya dimanfaatkan untuk membantu meredakan demam dan gangguan pencernaan karena kandungan alkaloidnya (Mariya et al., 2013).
Budidaya Thunbergia affinis relatif mudah melalui biji maupun stek batang pada media berdrainase baik. Tanaman ini tumbuh optimal pada sinar matahari penuh hingga teduh parsial dengan penyiraman rutin pada fase awal pertumbuhan. Pemangkasan berkala dianjurkan untuk mempertahankan bentuk tanaman dan merangsang pembungaan. Berdasarkan Daftar Merah IUCN, Thunbergia affinis berstatus Least Concern (LC) karena memiliki persebaran yang luas dan populasi yang relatif stabil di habitat alaminya. Meskipun demikian, pelestarian tetap penting untuk menjaga keragaman genetik serta mencegah potensi sifat invasif di luar daerah persebaran alaminya.
Credit :
Mahasiswa biodiversitas tumbuhan 2025/2026