Ardisia crispa (Thunb.) A.DC. atau yang dikenal sebagai mata ayam merupakan salah satu anggota kelas Magnoliopsida. Tumbuhan ini memiliki habitus berupa pohon dengan tinggi sekitar 2,7 m. Daunnya merupakan daun tunggal dengan bentuk elips hingga lanset, berukuran kurang lebih 13 cm dengan lebar sekitar 4 cm. Ujung daun umumnya meruncing, sedangkan pangkal daun cenderung meruncing hingga membulat, dengan permukaan daun halus dan sedikit mengkilap. Tulang daun menyirip dengan satu tulang daun utama yang memanjang dari pangkal hingga ujung daun, serta cabang-cabang tulang daun yang tersusun di kedua sisi. Daun tersusun berhadapan bersilang pada batang.

Batang berwarna abu-abu kecoklatan dengan permukaan yang relatif halus, serta memiliki diameter batang sekitar 5 cm. Bunga berukuran kecil hingga sedang, dengan diameter sekitar 2 cm, umumnya berwarna ungu muda. Mahkota bunga tersusun dalam satu lingkaran dengan 5 helai mahkota yang berbentuk membulat hingga agak meruncing, dan bagian tengah bunga terdapat benang sari yang mengelilingi putik. Bunga biasanya muncul dalam bentuk tandan kecil di ketiak daun. Sistem perakaran bertipe akar tunggang dengan cabang akar yang menyebar di dalam tanah. Tumbuhan ini umumnya tumbuh di lingkungan hutan tropis, terutama pada daerah teduh dengan tanah yang lembab dan kaya bahan organik. Habitatnya meliputi hutan sekunder, semak belukar, serta area dengan kelembapan tinggi dan intensitas cahaya sedang hingga rendah.

Ardisia crispa sudah lama dikenal sebagai tanaman obat tradisional yang punya berbagai manfaat, terutama sebagai antiinflamasi dan аntihiperalgesik. Di kawasan Asia Tenggara dan Tiongkok, banyak masyarakat yang sering memanfaatkan bagian daun dan akar tanaman ini sebagai pereda nyeri dan pembengkakan, sedangkan jus akarnya digunakan untuk mengatasi beberapa penyakit seperti sakit telinga, batuk, demam, dan diare. Selain itu, campuran daun dan akar juga digunakan sebagai obat gosok untuk mengatasi gangguan kulit seperti iritasi atau peradangan (Roslida & Kim, 2008). Kemudian, menurut Kang (2001), Ardisia crispa juga mengandung senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas antimetastatik dan antitumor.

Budidaya Ardisia crispa dapat dilakukan pada daerah beriklim tropis dengan kondisi lingkungan yang tidak terlalu terpapar sinar matahari langsung. Tanaman ini umumnya tumbuh optimal pada suhu sekitar 20–30°C dengan pH tanah 5,5–6,5 serta membutuhkan media tanam yang gembur dan kaya bahan organik. Perbanyakan bisa dilakukan melalui biji (generatif) maupun stek akar atau batang (vegetatif), namun metode vegetatif biasanya lebih cepat dalam menghasilkan tanaman baru. Bibit yang sudah memiliki beberapa daun dapat dipindahkan ke polybag atau lahan dengan jarak tanam sekitar 30–50 cm. Perawatan tanaman meliputi penyiraman secara rutin agar tanah tetap lembab, pemupukan organik setiap 2–4 minggu, serta penyiangan gulma dan pengendalian hama secara berkala (Zhang et al., 2018). 

Status konservasi Ardisia crispa berdasarkan IUCN Red List belum diketahui atau belum ada penilaian secara khusus. Oleh karena itu, informasi mengenai tingkat ancaman terhadap spesies ini masih sangat terbatas. Meskipun demikian, keberadaan Ardisia crispa tetap perlu diperhatikan karena perubahan kondisi habitat dapat memengaruhi kelangsungan populasinya di alam. Upaya pendataan dan penelitian lebih lanjut mengenai persebaran, jumlah populasi, serta kondisi habitatnya diperlukan agar status konservasi spesies ini dapat ditetapkan dengan lebih jelas di masa mendatang.

Credit :
Mahasiswa Biodiversitas Tumbuhan 2025/2026