
Bagi banyak orang, tanaman ini mungkin hanya dikenal sebagai tumbuhan yang tumbuh di pekarangan atau ruang terbuka hijau. Namun, dibalik penampilannya yang sederhana, tanaman ini telah lama dimanfaatkan sebagai tanaman obat tradisional karena mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan. Selain nilai manfaatnya dalam pengobatan, tanaman ini juga memiliki karakter morfologi yang khas sehingga menarik untuk dikaji. Berdasarkan hasil pengamatan, karakteristik morfologi tanaman ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pisonia grandis R.Br. merupakan tanaman herba dari famili Nyctaginaceae dengan habitus berupa pohon tropis yang tumbuh tegak dan bercabang. Namun, yang terdapat di Taman Husada Graha Famili Surabaya habitusnya berupa perdu. Pisonia grandis memiliki sistem akar tunggang yang kuat dan berkembang untuk menopang tubuh tanaman di lingkungan pesisir. Pisonia grandis memiliki batang berkayu, berwarna cokelat abu–abuan dan bercabang membentuk tajuk rindang (Suvi et al., 2020). Pisonia grandis memiliki daun tunggal dengan bentuk lonjong hingga bulat telur, berwarna hijau, ujung meruncing, dan bertekstur agak lunak. Pisonia grandis memiliki duduk daun yang tersusun berhadapan (Sari & Rustiami, 2025).
Pisonia grandis R.Br. memiliki potensi sebagai tanaman obat karena pada bagian daunnya mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan fenolik yang berperan sebagai antioksidan dan antibakteri (Mishra, 2024). Tanaman ini juga digunakan dalam pengobatan tradisional, terutama bagian daun dan akar, untuk mengatasi luka, peradangan, dan gangguan metabolik seperti diabetes (Lalitha et al., 2016). Selain itu, tanaman ini berperan penting secara ekologis sebagai habitat dan tempat bersarang bagi burung di ekosistem pesisir (A’tourrohman, 2021).
Budidaya Pisonia grandis relatif mudah karena dapat diperbanyak melalui biji maupun stek batang serta mampu tumbuh baik di daerah tropis. Tanaman ini juga memiliki toleransi tinggi terhadap kondisi lingkungan pesisir sehingga sering digunakan dalam rehabilitasi pantai (A’tourrohman, 2021). Upaya konservasi dilakukan melalui penanaman kembali dan perlindungan habitat alami karena penting bagi keseimbangan ekosistem pulau kecil. Secara global, Pisonia grandis umumnya belum dikategorikan sebagai spesies terancam dan cenderung memiliki populasi stabil sehingga dikategorikan sebagai Least Concern menurut International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).
Daftar Pustaka:
A’tourrohman, M. (2021). Kajian Etnobotani Tanaman Wijayakusuma Keraton (Pisonia grandis R. Br.) Di Kabupaten Cilacap. Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Lalitha, P., Firdhouse, J., & Sripathi, S. K. (2016). In-Vitro Anti Diabetic Efficacy (Potential) Of Leaf Ethanol Extract Fractionates Of Pisonia Grandis R. Br. Pharmacophore, 7(6-2016), 625-630.
Mishra, S. (2024). Preliminary Pharmacognostical & Pharmacological Studies on The Pisonia Grandis R. Br. on Rats. Journal of biomedical and pharmaceutical research.
Sari, I. A., & Rustiami, H. (2025). A Leaf Morphological Variation Of Pisonia grandis R. Br.(Nyctaginaceae) From Java, Bali, And Lombok. Floribunda, 8(2), 44-53.
Suvi, T., Tedersoo, L., Abarenkov, K., Beaver, K., Gerlach, J., & Koljalg, U. (2020). Mycorrhizal symbionts of Pisonia grandis and P. sechellarum in Seychelles: identification of mycorrhizal fungi and description of new Tomentella species. Mycologia, 102(3), 522-533.
Pathak, N., Bhagawati, P., & Muzumdar, K. (2026). Thunbergia- Distribution, Taxonomy and Pharmacognosy: A Systematic Review. Genetics and Molecular Research, 25 (1), pp. 1-15.